Sultan
Mehmed II atau juga
dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih adalah seorang Sultan Turki Utsmani
yang menaklukkan kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai
kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 6 bahasa
saat berumur 21 tahun.
Ia
merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur. Mempunyai
kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa
saat berumur 21 tahun.
Muhammad
al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu
kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang
merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sejak
kecil Muhammad Al-Fatih telah dididik oleh dua ulama besar pada zamannya, yaitu
Syaikh Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin, yang masih merupakan keturunan Abu Bakar
As-Siddiq.
Muhammad Al-Fatih yang menaklukan konstantinopel dan mengganti nama Konstantinopel
menjadi Islambol (Islam keseluruhannya).
Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul.
Untuk memperingati jasanya, Masjid Al-Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.
Kejayaannya
dalam menaklukkan Konstantinopel
menyebabkan
banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi
peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan
tentaranya.
Keberadaan Muhammad Al-Fatih
ini pun telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Kota
Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah
sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik
pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].
Diceritakan
bahwa tentara Sultan Muhammad Al-Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib
sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud
sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al-Fatih saja yang tidak pernah
meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat
kematiannya.
Dikisahkan ketika
pasukan Islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota Konstantinopel,
setelah kota tersebut dibebaskan timbul
persoalan, SIAPA YANG SEHARUSNYA MENJADI IMAM SHALAT JUMAAT PADA WAKTU.
“Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?” tak ada jawaban. Tak
ada yang berani yang menawarkan diri !
lalu Muhammad Al-Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh
rakyatnya untuk bangun berdiri.
Kemudian beliau bertanya. “ Siapakah diantara kalian yang sejak remaja,
sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat
wajin lima waktu, silakan duduk!!” Subhanalloh……!!! Maha suci Allah ! tak
seorangpun pasukan islam yang duduk. Semua tegak berdiri. Apa artinya? Itu
berarti, tentara islam pimpinan Muhammad Al-Fatih sejak masa remaja mereka
hingga hari ini, tak seorangpun yang meninggalkan shalat fardhu. Tak sekalipun
mereka melalaikan shalat fardhu. Luar biasa…..!!!!!
Lalu Muhammad Al-Fatih kembali bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!!!”. Sebagian lainya segera duduk. Artinya, pasuka islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat sunah setelah maghrib, dua roka’at sebelu shubuh dan shalat rowatib lainaya. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam Al-Fatih.
Dengan mengedarkan matanya ke seluruh rakyat dan pasukanya Muammad Al-Fatih kembali berseru lalu bertanya: “ Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!!”
Apa yang terjadi…???? Terlukislah pemandangan yang menakjubkan sejarawan
barat dan timur. Semua yang hadir dengan cepat duduk!!” Hanya ada seorang saja
yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia??? dialah, Sultan Muhammad Al-Fatih,
sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang
pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al-Fatih seorang yang
sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada
Allah SWT, tidak pernah kosong/absen semalampun.
Selain terkenal sebagai jenderal perang yang shaleh
dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya,
Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan,
kumpulan syair yang ia buat sendiri.
Dalam catatan sejarah, Sultan Muhammad juga membangun
lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah
Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II
dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari
Muhammad Al-Fatih
wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei
1481 M. Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad Al-Fatih
pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak
sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat
ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat
tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, dan ia pun wafat.
Sebelum wafat, Muhammad Al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Pesan
lain dari Sultan Muhammad Al-Fatih yang perlu direnungkan pada saat ini
adalah....
.... " Jika suatu saat masa kelak kamu TIDAK lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf Shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan Generasi muda kalian di masa itu " ...

Komentar
Posting Komentar