
Ada banyak tokoh yang mendunia yang mungkin kebanyakan dari kita tidak mengenalnya, alasannya: mungkin saja ketokohan mereka sengaja ditutupi untuk sebuah kepentingan tertentu, tapi mungkin juga karena "kebutaan" kita sendiri terhadap tokoh tersebut.
Disini saya sengaja beberapa kali menggunakan kata MUNGKIN, karena saya sendiri tidak punya bukti ilmiah untuk membuktikan kata-kata tersebut, tapi bukan berarti kita harus menutup mata dan telinga untuk sebuah kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Salah satu tokoh Islam yang patut kita ketahui adalah Faisal bin Abdul Aziz atau lebih dikenal dengan sebutan RAJA FAISAL dari Arab Saudi. Dia adalah anak ketiga dari Raja pertama, Raja Abdul Aziz. Faisal bin Abdul Aziz dilahirkan di Riyadh pada 14 April 1906. Ibunya bernama Tarfa binti Abdullah bin Abdul Latif Asy Syaikh, yang di nikahi Abdul Aziz pada 1902 setelah menaklukkan Riyadh. Dia berasal dari keluarga Asy-Syaikh, keturunan dari Muhammad bin Abdul Wahhab. Kakek dari Faisal, Abdullah bin Abdullatif, satu dari ulama dan penasihat raja Abdul Aziz.
Ibu dari Faisal meninggal pada 1912 ketika Faisal sangat muda [ dan Faisal kecil tinggal bersama kakeknya yang mengajarkan dia Al-Quran dan dasar-dasar agama Islam, yang sangat mempengaruhi kehidupannya selanjutnya.
Faisal bina Abdul Aziz resmi dilantik sebagai Raja kedua Arab Saudi pada tanggal 2 November tahun 1964. menggantikan Raja 'Abdul 'Aziz dengan gelar Malik Faisal bin 'Abdul 'Aziz as-Saud. Raja Faisal dikenal sebagai pemimpin yang shalih dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Ia sangat memperhatikan kepentingan rakyatnya, banyak sekali program-program baru yang dicanangkannya selepas penobatannya sebagai kepala negara. Beberapa diantaranya adalah, pada tahun 1967 Raja Faisal menggalakkan program penghapusan perbudakan, program ini ia lakukan dengan membeli seluruh budak di Arab Saudi dengan kas pribadinya hingga tak tersisa satupun budak yang dimiliki seorang majikan di negara itu, bahkan ada budak yang ia beli itu memiliki harga sangat mahal (dengan nilai mata uang dimasa itu), yaitu 2.800 dolar. Kemudian ia bebaskan budak-budak yang dibelinya tersebut dan dilanjutkan dengan pemberlakuan aturan tentang pelarangan adanya perbudakan di Arab Saudi untuk selamanya.
Raja Faisal juga melakukan penyederhanaan gaya hidup keluarga kerajaan serta melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil mewah Cadillac milik istana, dana dari hasil program diatas salah satunya terealisasi pada pembangunan sumur raksasa hingga sedalam 1.200 meter sebagai tambahan sumber air rakyat untuk dialirkan pada lahan-lahan tandus disemenanjung Arab.
Pada tahun yang sama dengan pencanangan program penghapusan perbudakan (1967), Raja Faisal menyerukan Agresi melawan Israel dalam rangka pembelaannya terhadap tanah suci Al-Quds (Yerusalem) dan menghentikan Israel dari program pemekaran wilayah negaranya atas daerah-daerah di sekitarnya.
Ada suatu sikap yang luar biasa, yang lakukan oleh Raja Faisal, yaitu ketika Raja Faisal memutus pasokan minyak hingga negara-negara Barat mengalami krisis minyak pada Oktober 1973, ia melontarkan kalimat yang terkenal dan mengguncang dunia: “Kami dan leluhur kami telah mampu bertahan hidup hanya mengandalkan kurma dan susu, dan kami akan kembali dengan cara itu lagi untuk bertahan hidup (tanpa bantuan barang-barang dari Barat).”
Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS, langsung mengunjungi Raja Faisal dan mencoba membujuknya untuk menarik keputusannya itu. Akan tetapi Raja Faisal hanya berkata dengan wajah penuh kebencian, “Hancurlah ISRAEL!”
Henry Kissinger mencoba melontarkan sebuah lelucon untuk menghibur sang Raja: “Pesawat saya kehabisan minyak, berkenankah yang mulia memerintahkan orang agar mengisinya dengan minyak kembali? Dan kami siap membayarnya dengan kurs internasional.”
Namun Sang Raja tak tertawa sedikitpun. Ia memandang Kissinger sambil berkata: “Dan aku hanyalah seorang lelaki tua yang menginginkan untuk dapat shalat dua rakaat di Masjid Al Aqsa sebelum aku mati; maka maukah engkau (Amerika) mengabulkan permintaanku ini?”
Komentar
Posting Komentar